Jumat, 11 Juli 2008

Nyanyikan Terus

T. WIJAYA
Nyanyikan Terus

Seperti nyanyian yang membesarkan saya bayi. Tidak buru-buru. Pelan. Bertahap. Sehingga perih saya menidurkan jasad, yang selalu cemas atas kematian. Beri saya banyak jam; saya ingin menjaga catatan yang dirobek waktu. Saya gemetar seperti seekor semut pada ketinggian itu.
Nyanyikan terus. Nyanyikan terus. Nyanyikan terus.
Saudara, tidak perlu bertukar jasad. Kita memang satu dari ruang bukan kuasa mereka. Biarkan mereka menantang Tuhan. Nyanyikan terus. Nyanyikan terus. Saya bayi membesar, dan menyusui kerinduan akan ribuan pohon yang menyambut kelahiran itu.

2008

Kamis, 10 Juli 2008

Sembunyi

T. WIJAYA
Sembunyi

Wajah-wajah tanah memberi senyum. Aku terkejut dengan pakaian yang kubeli sendiri. Wajah-wajah itu bagai angin menembus kemeja dan celana pendekku. Kulitku terkelupas, seakan surga telah menipu. Darah tipis yang deras mengucur dari celah kulit dagingku. Sudah seharusnya, sapa mereka. Wajah-wajah hutan terus memberi senyum. Aku berendam dalam kolam, jejak kaki mereka.
Ibu, jangan sembunyi. Aku tahu kau lari dari kampung itu. Tembok-tembok yang kau bangun sebenarnya sederhana. Hitam. Hitam. Lalu putih. Kini, aku penggemar berat suara-suara daun. Wajah-wajah laut memberi senyum. Tidak memaksa pisau-pisau membelah keinginan berada paling ramai di laut. Sisik-sisik di kulit mereka tidak amis. Jemarinya menyelamatkan punggungku yang dingin. Sultan, bisikku.
Wajah-wajah sungai mengikutiku hingga pesawat menghempaskan rodanya ke aspal bandara.

2008

Video MUSI MENGALIR

Slide Keluarga