Kamis, 31 Juli 2008
Bayangan Merupakan
Bayangan merupakan sesuatu yang membodohi dari sebuah keputusan selama hidup. Dia menyelusup pada tiap aktifitas tubuh. Maju bergerak. Mundur berlari. Mululu hitam. Dan, tiap pagi dia membesarkan dadanya sebelum mulut menghirup seteguk kopi.
Bayangan merupakan ada sampai matahari ditelan naga langit. Tidak peduli makhluk-makhluk dari ribuan galaksi mampir ke beranda rumahku. Rumah menghadap matahari. Membiarkan bayang kami menyejutkan para pedagang makanan kecil, yang sadar dunia kian miring.
Bayangan bergelombang dalam riak air, merayap mengikuti gedung, gunung, bukit, paha, kaki, jempol, dan hidungmu. Maju didorong. Mundur berlari. Melulu hitam.
Bayangan merupakan pesawat terbang yang membangunkan kau, yang tertidur di meja komputer, setelah ribuan kilometer mengunjungi percakapan video di www.youtube.com. Lihatlah, bayangan juga menemukannya. Tidak perlu miskin, berpenyakitan, atau tengah diperkosa, buat merasakannya. Hanya lepas dari kecerdasan dan pembelaan, seperti abah yang berpulang 16 tahun lalu. Ya, bayangan merupakan. Merupakan.
2008
Selasa, 29 Juli 2008
T. WIJAYA
Mencari Kutu dan Uban
Kemiskinan tidak dapat menghentikan masyarakat mencari kutu, uban, di kepala penuh palu kemarahan. Mereka. Nyonya-nyonya yang berjuang menjaga beras tidak lari dari kejaran ayam, dan antrian yang penuh fitnah di kios minyak tanah, terus menjaga rambutnya. Rambutnya cuma seoles minyak sayur, dan belaian tangan-tangan tanpa kasih meremas tiap subuh. Nyonya-nyonya selalu kedinginan memulai salat subuh. Mereka.
Kemiskinan tidak dapat mendinginkan masyarakat mencari uban, dan kutu yang menumpuk di titik tengah kepala. Liarnya harapan menghisap darah. Darah. Bukan sebagai iklan yang muncul tiba-tiba menggantikan abah, yang tiba-tiba mati, menyusun agenda perjalanan ke desa. Desa yang tetap menjaga nyonya-nyonya. Mereka.
Kemiskinan tetaplah uban dan kutu yang dikalahkan waktu tanpa dapur yang diam. Melulu berteriak seperti gergaji di hutan tanpa nyonya. Mereka. Antri di belakang celanamu. Robeklah pada bagian pantatnya. Mereka.
2008
Mencari Kutu dan Uban
Kemiskinan tidak dapat menghentikan masyarakat mencari kutu, uban, di kepala penuh palu kemarahan. Mereka. Nyonya-nyonya yang berjuang menjaga beras tidak lari dari kejaran ayam, dan antrian yang penuh fitnah di kios minyak tanah, terus menjaga rambutnya. Rambutnya cuma seoles minyak sayur, dan belaian tangan-tangan tanpa kasih meremas tiap subuh. Nyonya-nyonya selalu kedinginan memulai salat subuh. Mereka.
Kemiskinan tidak dapat mendinginkan masyarakat mencari uban, dan kutu yang menumpuk di titik tengah kepala. Liarnya harapan menghisap darah. Darah. Bukan sebagai iklan yang muncul tiba-tiba menggantikan abah, yang tiba-tiba mati, menyusun agenda perjalanan ke desa. Desa yang tetap menjaga nyonya-nyonya. Mereka.
Kemiskinan tetaplah uban dan kutu yang dikalahkan waktu tanpa dapur yang diam. Melulu berteriak seperti gergaji di hutan tanpa nyonya. Mereka. Antri di belakang celanamu. Robeklah pada bagian pantatnya. Mereka.
2008
Subscribe to:
Postingan (Atom)
