Kamis, 02 April 2009
Sajak T.WIJAYA
Saat anak-anak aku ingin menjadi seekor burung merpati. Sekarang, katanya, aku mendapatkannya. Tapi aku tidak bahagia. Aku hanya seekor burung pengeluh.Tidak terima gedung kesenian menjadi sarang orang-orang tak mengenal dirinya, dan teman-teman yang berani, kini tidur dan makan di sarang musuh yang merampas kasih Tuhan.
Aku dapat bahagia dalam kesepian, tapi menunggu mereka menghabiskan kepuasan dari penyiksaan kemiskinan membuatku muak, dan berulang kali memuntahkan ludah ke dalam perut.
Siapa aku tanpa anak-anak? Aku tak berani berjanji dengan anak-anakku untuk terus menjadi burung merpati. Aku mungkin harus selalu percaya tiba-tiba tua dan mati.
2009
Senin, 16 Maret 2009
Sajak T.WIJAYA
Aku harus percaya dan mempertahankan keluarga yang dikocok dalam sebungkus mi instan, setelah aku berkelahi dengan semua lelaki di beberapa kantor yang memberi gaji; beberapa bungkus mi instan.
Bertahan dengan banyak hal yang kubenci:
Ingin terbang, mereka bercerita di luar semuanya haram. Ingin terbang, tapi penjaga tanah suci selalu menghina.
Aku harus percaya dengan keindahan, kekayaan, dan sejarah yang membuat keluarga direbus dalam sebuah panci. Tubuh penuh harga dan bekas lidah para tentara yang berbisnis, dan berkata inilah harga diri.
Ingin terbang, mereka bercerita di luar semuanya penjajah.
Apa yang kudapatkan selama 24 jam di negeri yang tidak kumengerti? Koran yang lucu dan fatwa-fatwa yang menakutkan, mencium kesadaran melupakan bendera.
Pagi ini, aku tidak berani bunuh diri. Bahasaku satu, yang gagap mengungkapkan sebuah bangsa yang harus kupercaya.
2009
