Senin, 02 Juni 2008

Florence Ciki Pergilah








T. WIJAYA

Florence Ciki Pergilah

Orang-orang berlari menuju warna. Tidak tersisa warna buat Florence Ciki. Florence Ciki dalam rabun. Paku-paku menancap di kemaluannya. Dia berbalik, pantatnya menipis, buah dadanya memukuli dada. Cuciannya kanyut di sungai Musi. Tai dari burit 10 anaknya mewarnai orientasi moralnya.

Moralnya melompat ke pasar Jakabaring. Dia mencakari ikan sungai, meludahi sayuran, mengencingi berkarung-karung beras, menciumi ketiak para kuli, lalu tidur sambil berharap moralnya bukan tiang bendera.

Di bawah tiang bendera, sekian ribu semut dari kolong-kolong rumah panggung yang lembab berbaris. Mereka menyanyikan Indonesia Raya selama 60 tahun. Punggung mereka penuh panu. Kurap melingkari pinggang. 45 tentara memaksa mereka menggunakan obat anti jamur! Pedih. Pedih. Pedih. Pedih.

Bagaimana catatan sejarah mengenai sumpah?

Orang-orang bertinju kembali ke rumah. Tidak ada tangga dan pintu yang suci. Semuanya telah diperkosa warna. Dinding teras pun sepakat dengan kamar mandi; bertukar keramik, bertukar bau pesing.

Jangan menunggu.

Florence Ciki pergilah. Florence Ciki pergilah. Florence Ciki pergilah. Pintumu di bagian utama dari ruangan ini. Laki-laki melulu menyukai kamar mandi, asbak, sepakbola, dan toilet umum di hotel ini.

Di luar hotel, moralnya melompat ke Jalan Diponegoro...

2008

1 komentar:

Arpan mengatakan...

Florence Ciki, Florence Nightingale, oh Pak Piik, ahuk ahuk... Moral pantat kempis jadi maenan tai burit, memang. Tapi libertre dan egalitre jangan simpan di lubuk Sungi Musi. Tahanan Rutan Merdeka harus lolos kabur semua ke Bundaran Air Mancur biar kata orang niru Bastille 1789 sak bodoh. Hore, hore, hore!

Video MUSI MENGALIR

Slide Keluarga