Rabu, 25 Juni 2008

Ciumlah, Kata Kita


T.Wijaya
Ciumlah, Kata Kita

Pohon itu masuk ke dalam mulutmu. Daun-daun yang dingin akhirnya membuatmu tahu, kita tidak berbeda. Buah-buah yang manis membuatmu mengerti, cinta kita tidak berbeda. Akar-akarnya membalut tubuh kita menjadi selembar kain putih. Terbang meneruskan pewarnaan pada pelangi. Terbang. Terbang.
Kita duduk pada malam itu. Menceritakan pohon yang masuk ke mulutmu. Tanpa pisau, tombak, pedang, batu. Kita malu-malu meritualkan Tuhan. Cemas jika ritual membuat Tuhan menjadi tercengang.
Sementara sungai telah jalan-jalan ke nadiku. Dia menyeret racun-racun yang membuatku gemetar dan meledak-ledak. Duhai angin dunia masih terjaga! Dia membelai kami. Dunia perlahan meninggalkan kemiringannya.
Lihatlah, kataku, pohonmu tumbuh pada tubuh perahuku. Mereka menyusuri parit-parit semua kota. Buah-buahnya memberi warna pada bibir dan mata, sehingga telinga-telinga terjaga dari paku-paku yang menjijikkan.
Dengarkan, katamu, perahumu tertidur mendengarkan nyanyian daun pohonku. Mereka menitipkan mimpi agar dunia tidak kehilangan mimpi. Bunga. Bunga. Bunga. Bunga. Bunga. Bunga.
Ciumlah, kata kita.

2008

Kamis, 19 Juni 2008

Aku Tetap Menjaga Cinta Itu


T. Wijaya
Aku Tetap Menjaga Cinta Itu

Kita berjalan di antara napas orang-orang luka. Kita luka. Kau titip senyum. Mimpiku menggelora. Lalu, semuanya lenyap. Kucari dalam setiap sudut kota, dan ingatan di bangku-bangku oplet. Kutanam bunga di setiap persinggahan malam. Gelap terus memiliki malam. Lukaku seperti sia-sia.
Pagi ini, embun di permukaan daun menyapaku. Mimpiku kembali menggelora. Masih ada yang terluka padaku. Pada katamu. Pada pintu orang-orang. Tuhan pasti suatu kali memberikan matahari pada malam, bisikku. Pasti, seperti angin yang membangunkan kita siang itu di Taman Budaya, setelah sekian lama tertidur dalam kesedihan yang marah.
Kita berjalan di antara jejak orang-orang kalah. Kita kalah. Lalu, semuanya lenyap. Mungkin, kau titip laut, langit, dan sungai, yang terus kujaga.
Terus terluka, terus terluka, terus terluka, terus terluka.
Pagi ini, embun di permukaan daun menyapaku. Mimpiku kembali menggelora. Lukisan taman itu masih menunggu warna-warnamu. Aku tetap menjaga cinta itu.

2008







Rabu, 18 Juni 2008

Teng! Saya Mencari Cina

T. Wijaya
Teng! Saya Mencari Cina
Sedikitnya 20.100 bayi mencari susu instan. Para suami tak kuat bercinta dengan istrinya. Mama saya gagal menggoreng tahu dan ikan asin. Minyak sayur menghilang.
Udara 39 derajat celcius. Tentara menatap papa saya dengan membawa senjata api sungguhan. Teng! Teng! Cer! Saya mencari Cina.
Maaf. Cina tak ada di sini. Kami tak mampu menyelamatkan kulkasmu yang membusuk. Hidupkan api dari ketakutan kami. Bangun pasar-pasar tanpa pungutan. Cina tak ada di sini.
Ayam dan kambing masih ada di kebun. Potonglah untuk pesta itu. Tiket dan mata uang asing bukan kereta ke surga. Kami asing di Hong Kong. Sungguh! Tak ada Cina di sini. Dulu, kami Tionghoa.
Kami datang dari ratusan abad lalu, bersama kapal-kapal kayu yang dikutuk bangsa di daratan. Kami menancapkan tiang untuk rumah, dan menyusun bambu-bambu di tubuh sungai. Melayu.
Kami ke Lahat, beranak dan menyusun tradisi menanam kopi dan teh. Kami ke Sekayu, beranak dan belajar kembali mencintai emas dan padi. Kami ke Komering, bersemedi dan menjaga keturunan dari gangguan setan. Di Palembang, kami menghargai keluarga, dan menghiasi rumah dengan warna merah dan kuning. Kami kumpulkan emas, keramik, dan uang perak untuk mempertahankan hidup.
Kami menjadi Umar, Hasan, Abdurachman, atau Jamilah, setelah kapal-kapal dari Persia mendarat. Kami menjadi sekian miliar, tapi asinan bawang putih tak dapat pergi dari lidah kami.
Tak ada Cina di sini. Dulu kami Tionghoa.
Saya mengais bangunan yang terbakar itu. Hitam dan abu. Televisi dan beras membunuh sejarah peradaban Melayu.
Bayi saya melompat: “Papa izinkan saya menyusui bangkai gedung ini.” Namun tak ada puting susu yang tumbuh, kecuali jamur-jamur merah. Bayi saya membuka mulutnya. Kreak! Siapa yang mengirim api melalui kaki anjing-anjing perkotaan.
Teng! Teng! Cerrr! Saya mencari Cina. Namun, di jalan melulu tentara dengan senjata api sungguhan.
Teng! Teng! Cerrr! Saya mencari Cina. Saya menelepon Singapura dan Australia. Keduanya menjawab tidak ada.
Para suami bersemangat untuk bercinta. Ruangan selalu hangat. Setiap orang bebas menggoreng daging dan minum susu. Tak ada tentara di sepanjang jalan. Tetapi, kami menemukan tiga anak kecil yang rindu mandi di sungai Musi. Apakah kami harus mengirim mereka melalui faximili?
Saya duduk di pasar 16 Ilir, pukul 03.00 WIB. Tidak seorang pun penjual sayur dan ikan tahu ke mana perginya Cina.
Saya lelah. Masyarakat tak dapat memberi susu bayi saya. Masyarakat tak dapat memberi minyak goreng buat mama saya. Masyarakat membawa tentara dengan senjata api sungguhan.
Tiba-tiba pasar 16 Ilir menjadi gorila. Dia mencabik-cabik tubuh saya. Pasar 16 Ilir tidak peduli berapa gaji yang saya terima setiap bulan. “Kami bukan orangtuamu. Kalau mau mati, matilah,” kata pasar 16 Ilir.
Saya mencari Cina. Saya menelepon Perserikatan Bangsa-Bangsa. Jawabannya: “Tak ada Cina di sini.” Saya mendesak IMF. Jawabannya: ”Mata uang apa itu Cina?”
Teng! Teng! Cerrr! Saya mencari Cina. Saya mencari Cina. Saya mencari Cina. Saya mencari Cina...
Sedikitnya 35 juta warung bingung menentukan ke mana perginya pembeli. Mereka cuma dapat membakar simbol. Para babu yang bunting, akhirnya membatalkan kelahiran. Buruh-buruh pabrik rokok, pabrik tekstil berteriak melalui media massa: “Roboh!”
Oi, saya mencari Cina. Tolonglah. Saya tak mampu mengunjungi warung-warung. Saya mencari Cina.
Maaf. Tak ada Cina di sini. Dulu kami Tionghoa. Hidupkan api dari ketakutan kami. Bangun pasar-pasar tanpa pungutan. Bangun pasar-pasar tanpa surat orang-orang pemerintahan, dan pemilik senjata api sungguhan.
Teng! Teng! Cerrr! Saya mencari Cina. Saya Tionghoa.

1998
Catatan: Puisi ini saya tulis sepekan setelah kerusuhan Mei 1998, mengenang teman-teman di 10 Ulu, Palembang. Puisi ini dibacakan sebulan kemudian di Hotel Novotel Jambi, atas undangan penyair Ari Setya Ardhy (almarhum). Puisi ini saya kutip dari buku kumpulan puisi bersama Ode, dalam tumpukan buku setelah beberapa tahun menghilang.








Minggu, 15 Juni 2008

Oi Melayu. Akulah sungai Musi.


T. WIJAYA
Oi Melayu. Akulah sungai Musi.

Duhai batu, jadilah sungai Musi. Duhai lumpur, jadilah sungai Musi. Duhai pabrik, jadilah sungai Musi. Duhai matahari, jadilah sungai Musi. Duhai mobil, jadilah sungai Musi. Duhai parang, jadilah sungai Musi. Duhai pempek, jadilah sungai Musi. Duhai hotel, jadilah sungai Musi. Duhai kekasih, jadilah sungai Musi.

Sungai. Sungai. Sungai. Sungai. Ratusan sungai. Ribuan rumah panggung. Jutaan kepala. Miliaran tenaga mencangkul sawah, berkebun, menjaga sumur minyak, melindungi perempuan-perempuan berparas kuning. Memeluk lelaki-lelaki berambut ombak. Membesarkan anak-anak yang pandai berperahu.

Oi dada, jadilah sungai Musi. Oi kepala, jadilah sungai Musi. Oi kaki, jadilah sungai Musi. Oi mulut, jadilah sungai Musi. Oi rahim, jadilah sungai Musi. Oi mata, jadilah sungai Musi. Oi bulu-bulu, jadilah sungai Musi.

Pulang, jadilah sungai Musi. Pergi, jadilah sungai Musi. Tidur, jadilah sungai Musi. Bangun, jadilah sungai Musi. Malam, jadilah sungai Musi. Siang, jadilah sungai Musi. Gunung, jadilah sungai Musi. Bukit, jadilah sungai Musi. Hutan, jadilah sungai Musi. Pantai, jadilah sungai Musi. Sampah, jadilah sungai Musi.

Oi Arab, jadilah sungai Musi. Oi Tionghoa, jadilah sungai Musi. Oi India, jadilah sungai Musi. Oi Minang, jadilah sungai Musi. Oi Jawa, jadilah sungai Musi. Oi Sunda, jadilah sungai Musi. Oi Batak, jadilah sungai Musi. Oi Bugis, jadilah sungai Musi. Oi Bule, jadilah sungai Musi.

Oi Melayu. Akulah sungai Musi.

Semua hidup. Seperti Tuhan dengan ratusan ribu mata airnya. Seperti Tuhan menjatuhkan miliaran kali hujannya. Tapi, jangan kau makan sendirian ikan seluang itu. Kita raja di bawah raja.

2008

Jumat, 13 Juni 2008

TBC, Yusuf Mati






T. WIJAYA
TBC, Yusuf Mati

Yusuf mati karena TBC. Kita datang dengan cerita sedih, tapi tersenyum dan tertawa. Tiap orang membawa kalkulator kesedihan, selepas Magrib itu. Saling bertukar angka setelah memburu sebungkus rokok dan kopi, antri pula dengan kupon minyak tanah di dada. Di bawah tenda menjelang Piala Dunia 2006. Yusuf mati di dekat televisi, suster, dua adik, selembar handuk coklat berkerak jauh dari kesadaran pingsan.

Orang-orang mati karena TBC. Tiap pagi dari kamar yang sulit disentuh matahari. Marah tertahan dan asap rokok bersama asap knalpot menggilas paru-paru. Kita dicatat dengan pil-pil, jarum suntik bersama menteri kesehatan yang lama. Masih ada TBC. Masih ada TBC. Selalu ada TBC.

Adakah presiden atau gubernur yang mati seperti Chairil Anwar, dan menderita ibarat Tan Malaka. Pertanyaan konyol pada masa nyanyian Gus Dur ini, katamu. Wacana terlalu melambung, melewati keperkasaan Superman di antariksa. Ustad! Tolong doakan Yusuf. Biarkan kuman-kuman TBC-nya tidak mengotori surga. Cukup melepuh di dalam tanah dalam musim kemarau ini. Sumur-sumur digali kita. Mencari yang airnya tidak menyebarkan TBC. Lembab dan berbau di balik gedung ini. Di balik gedung sepanjang Indonesia.

Menyedihkan memang, Yusuf tidak hadir saat dua kambing disembelih buat pesta Bahctiar disunat. Biasanya, dengan gitarnya dia nyanyikan lagu milik anak jalanan. Istri dan suami kita menutup mulut, lalu menyodorkan piring dan cangkir khusus seperti melayani anjing-anjing milik A Ming. Dan, kita selalu sigap menjaga gelas berisi kopi.

Setelah Yusuf mati, kita bertanya; rumah siapa yang selalu disinggahinya. Dia pemburu kamar lembab dan berbau. Dia menyintai kekasih di balik gedung itu. Di balik gedung sepanjang Indonesia.

Kita yang miskin selalu berolahraga dengan becak. Melayani cucu legislator yang bernyanyi: Becak, becak coba bawa saya. Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki…

Ya, Yusuf, sambil mengangkat kaki. TBC masih ada. Selalu TBC. Mari kita meneliti ulang.

2006

Islam di Jalan





T. WIJAYA
Islam di Jalan

Kita sudah lupa salam. Mulut penuh makanan. Saat ini di jalan, tidak ada sudut bibir diangkat sampai segarnya surga. Kerak iler seharga minyak mentah dari Saudi. Sudah tidak pagi lagi. Spanduk-spanduk dibebani cat merah, hijau dan hitam.

Dulu, bangku-bangku ini penuh kekasih. Tidak sombong pada berbungkus-bungkus kemplang keliling. Dulu, rumah kami belum dijual. Dari jendelanya, bercat putih, kami mencatat salam. Salam matahari dan bulan, yang bukan minyak mentah dari Saudi. Itu rambut hitam. Rambut hitam di bangku. Manis melewati kisi-kisi jendela.

Saat ini di jalan, itu kerut-kerut di kening lunturkan tanggal lahir dan kepastian mati. Boneka-boneka bugil dibakar, foto-foto direbus. Bagaimana kuburmu tanpa salam. Seakan panjang kemarahan itu dalam dekapan berjuta barel minyak mentah.

2006






T. WIJAYA
Orang-Orang Dikejar Polisi Pamong Praja

Kepung! Kepung! Gebuk! Tusuk! Gebuk! Kepung!

Meskipun pedagang, sebenarnya orang-orang mencukil kacang pada tainya setiap akhir bulan. Kebun yang dipanen, pajak yang dipungut, minyak sayur yang disuling, minyak bumi yang dihisap, hanya cukup membeli tempe yang kedelainya sulit dikunyah. Itu disengaja Tuhan, mungkin. Tetapi, perut sudah bosan menguyah kerikil, sehingga hasil cukilan dapat digoreng, pagi ini: Dibuat popcorn saat nonton Superman Returns atau digosongkan, ditumbuk, menjadi kopi bersama berita bencana dan pembunuhan di media massa pagi ini.

Sebelum musim sekolah, Jepang kembali meliuk, menghentak, menjilat di dada rumah tangga. Bagai anakku yang menangisi Jepang pada pertengahan 2006. Dia tidak dapat menerima keperkasaan Jepang dalam play station menjadi ubi kayu di mulut Ronaldo. Kita orang yang beruntung! Teriak istriku. Tidak jelas mau ke mana anakku mengibarkan benderanya. Dia berlari menuju sekolah yang terus vertikal tangganya. Anakku melawan beban tasnya yang berisi CD! Dia mencret. Mencret. Tapi kacangnya tetap dicukil. Tainya melekat pada aspal halaman sekolahnya. Dengan pendidikan agama dan matematika mereka membuat popcorn.

Kepung! Kepung! Gebuk! Tusuk! Gebuk! Kepung!

Kami pedagang yang dilempar dari dapur-dapur lembab dan busuk di sepanjang sungai Musi.

2006

Mangga Tiga Hari Lagi Matang






T. WIJAYA
Mangga Tiga Hari Lagi Matang

Kebun mangga yang tidak terjaga. Tengah malam yang mengantuk. Tidur dan menarik napas, apakah itu cinta? Menekan akar perutmu, menjilat dan menggigit pangkal buahmu, apakah itu kesepian? Ya, dua kambing yang makan daun-daunmu kupangkas bulunya, seperti itu keinginan dari bangku belakang motor milik Eman. Siapa peduli kita melewati cela-cela perkebunan; mencari kemeja yang pantas buat lelaki 35 tahun, saat membacakan puisi tanpa bahasa Inggris. Dulu, seperti aku, sahabatku belum memiliki kwitansi pembayaran dokter anak. Dia hanya memikirkan buah dadamu. Mangga tiga hari lagi matang.

2006

25 Tahun Tubuhmu Gula






T. WIJAYA
25 Tahun Tubuhmu Gula

Semut-semut menggerayangi tubuhmu. Seekor menggigit telingamu. Terpleset di lehermu. Mereka menghisap segala yang bau dalam setiap lekuk dan patahan yang sama. Dia pingsan tiga kali dalam dua jam itu. Semut-semut yang terjaga dalam timbunan pasir di kamar pada musim kemarau, kemiskinan dan bencana alam.

Landak muncul dalam pikiranmu. Lidah pucatnya kebal dari segala keliaran semut-semut aku itu. Berulang semut-semut menggerayangi tubuhmu tanpa Euro atau cukup sarung tangan.

2006






T. WIJAYA
Awak Terus Berlari, Tetap Batu Ternate

Awak terus berlari. Meskipun lagu-lagu kecemasan telah mencibit telingamu. Memang, kita adalah debu yang ingin angin segera berlalu. Kita adalah debu yang menanti setetes air. Sumpah dengan satu stel jas abu-abu! Tuhan ingin tangisan yang melekatkan kasih. Awak tak mungkin meninggalkan Ternate, Surabaya dan Palembang.

Bila di ponsel, aku cuma tahu batu. Aku cuma tahu batu. Maafkan seperti seiris daging kerbau tidak enak dikunyah. Aku cuma tahu batu. Sombongku menggergaji batu. Mengusap kecemasan-kecemasan yang berdesakan di bus-bus kota dan sepeda motor buatan Cina. Tuhan! Jangan bakar serbuk-serbuk batu itu, hanya itu doa kemiskinan.

Musim sudah seperti sebelumnya. Awak terus berlari, tetap batu Ternate. Bunga bukan di antara tumpukan berita dan gambar-gambar penuh kebohongan. Bunga adalah tarian mereka yang kehilangan peta sungai di Palembang. Di ketiak kita, mereka mencoba mengharumkan kerinduan kita pada anak-anak yang tidak peduli sejarah kemenangan itu. Awak terus berlari, tetap batu Ternate. Maafkan seperti seiris bawang goreng yang gosong, sombongku menggergaji batu. Tuhan menunggu dengan tiupan. Mungkin kita melekat dalam air mata surga.

2006

Kamis, 12 Juni 2008

Cinta 2011





T. Wijaya
Cinta 2011

Manusia luka. Manusia Luka. Paku-paku menusuk cintanya. Tiket-tiket membenci kami. Terminal terlalu sepi.

Ibu, aku mau pulang. Tolong cucikan pakaianku.
Ibu, aku mau pulang. Tolong siram bungaku

Di sini luka. Lilin menjaga pun mati. Langit meciumi tanah dalam perjalananku.

Ibu, aku mau pulang. Tolong buatkan kopi buat kami yang terluka.

2006

Cinta 2005






T. Wijaya
Cinta 2005

Aku ingin selingkuh tanpa dosa denganmu.
Duduk menatap perahu layar di pantai
Merajut Indonesia sebagai sebuah cinta
Cinta seluas mimpiku

Mimpiku orang menari di kota
Mimpiku orang bernyanyi di desa
Mimpiku orang bebas bicara

Bebas menilai Tuhan
Bebas menuju surga
Bebas menolak

Aku ingin selingkuh tanpa dosa denganmu.
Duduk menatap mentari senja di kamar
Membiarkan anak-anakku sebagai sebuah pohon
Pohon serimbun mimpiku.

1993






T. Wijaya
Meninggalkan Surga Sebagai Manusia

Meninggalkan surga sebagai manusia. Menemui dapur yang menangis. Kolong rumah dingin dan berdebu melilit puluhan tahun. Menangis. Mereka membawa bedak, minyak angin, serta jimat berupa gunting dan kertas berlipat bertuliskan ayat. Jin-jin berkelahi dengan malaikat. Tali pusarku mencatatnya. Menangis.

Dia menemui teman-temannya. Berlari dikejar susu bubuk. Menangis. Kursi menatapku. Dia bergoyang. Tanganku tak mampu pada menit itu. Gelombang dari langit-langit menjatuhkan kecoak ke dalam mulutku. Menangis. Dingin terus menyerang.

Kuraih dan kutelan matahari mengapung di sungai Musi. Kuhembuskan pada puting susunya. Dia melompat. Malam yang panjang. Menangis. Menangis. Aku ingin membunuh manusia, tapi tubuh terus menyeretku. Menangis.

Tahun itu, orang-orang lagi berharap. Dapur-dapur sepanjang sungai Musi kering. Garing. Aku diharapkan. Aku menangis. Airmataku membuat peta pada gambar Bung Karno di bawah kasur. Soeharto berulangkali bicara di radio.

Tahun itu, orang-orang lagi berjualan. Tanah dan rumah terguncang, dan mereka menandai sudut sejarah. Aku diharapkan. Aku menangis. Surga. Surga. Aku diharapkan. Semua diharapkan.

Tahun ini, orang-orang terus berjualan. Menangis. Soeharto ditelan radio.

2008

Rabu, 11 Juni 2008

Aku Sangat Serius Menyintaimu






T. Wijaya
Aku Sangat Serius Menyintaimu

Bunga yang kutanam di mimpimu terluka. Darahnya menetes sebagai airmata kebencian. Pohon-pohon menuju rumah tidak mau lagi menyapaku. Kebun rumahku terbakar. Kembalilah. Aku punya setangkai hati yang kubeli dari waktuku yang sempit. Lihatlah, aku sangat serius menyintaimu.

Aku berenang di mimpimu. Napasku tinggal gelembung-gelembung. Pecah sebagai keluhan yang sepi di sudut cafe ini. Kembalilah. Kembalilah. Saksikan, aku sangat serius menyintaimu.

Berikan bantal itu, biar kubenamkan proposal-proposal sekolah ini ke dalamnya. Kubakar, bila kau punya api. Berikan sepatu itu, biar kukunyah aspal jalan yang diinjaknya. Kugali seribu lubang di jalan, bila kau berikan cangkul itu.

Aku menikahi mimpimu. Spermaku menjadi kerikil-kerikil di daging. Sakit. Sakit. Menusuk bunga yang kutanam bersama fotomu di kamar ini. Fotomu menjadi buah dada yang kenyal, berkeringat, dan aroma bawang disiram parfum Gucci, membuat aku berlari sekuatnya mendekaki bukit sampai subuh membangunkan orang-orang. Tuhan maha kasih!

[Siapa yang akan mencegahku menelan 100 pil Rohypnol di hadapan penghulu yang bosan menunggu]

2008

Mawar Putih







T. Wijaya
Mawar Putih

Di malam ini
Seorang gadis dengan mawar putih di hati

Ingin mencari cinta suci
Tapi telah dikhianati
Oleh sejuta janji-janji
Oleh sejuta kemunafikan

Dan, akhirnya sepanjang malam
Dia cuma menangis
O, Amor yang agung, pernahkah kau memperhatikan
Karena nyawanya, perlahan, perlahan menghilang
Ditelan malam

1988

Selasa, 10 Juni 2008

Cinta 2002





T. WIJAYA
Cinta 2002

Aku ingin bercinta, denganmu di tengah bisingnya kota
Karena begitu banyak yang luka, dan tak mengenal cinta

Aku bosan dengan kata-kata bunga, yang menjerat jiwa
Bagai pohon di atas air, bagai kerikil di tengah jalan

Cinta itu api perjuangan
Untuk temukan kebenaran hidup
Sebelum kita tidur tenang
Sebagai sejarah

1991

Minggu, 08 Juni 2008

Telapak Cinta


T. WIJAYA
Telapak Cinta

Saya. Telapak kaki ini telah menyentuh puluhan buah dada perempuan yang berharap saya dapat membuatnya terbang ke angkasa. Di angkasa mereka dipuja dan menari, disiram aroma bunga dari seluruh penjuru dunia.

Saya terkapar sebagai jiwa yang bergelora dalam bisikan yang tiba-tiba. Lalu lupa. Dan, merasa benar dalam kata-kata yang bodoh. Seperti seorang lelaki tua menjual foto anak-anaknya di pasar loak. Seusai salat, lelaki tua itu melamun di teras langgar. Tuhan, keluhnya, siapa yang sebenarnya membuat dunia hanya tangga rumah dan ikan-ikan di dalam perahu.

Lelaki itu 66 tahun di kampung Suro.

Saya. Melulu airnya coklat. Tai dan buntang kanyut. Saya mengaisnya, mencari airmu. Airmu yang selalu memberikan wajah-wajah mereka. Wajah-wajah kehilangan buah dada, yang saya injak. Saya injak.

Telapak kaki itu kupijat. Cucu mencium kepala. Anak mencium telapak tangan. Tetangga mengirim undangan pernikahan. Oi, saya berlari terlalu cepat. Melompati tangga rumah dari kampung-kampung yang kini hilang.

Saya. Buka jendela. Orang-orang membacakan zikir. Orang-orang membicarakan saya. Tidak ada wajah mereka. Semuanya suara. Putih. Putih. Tuhan, keluh saya, siapa yang sebenarnya membuat gunung itu tumbuh di dapur saya. Akar-akarnya melilit tubuh saya. Kurus dan gagal menemui perempuan yang dadanya saya injak. Injak.

Mereka pun mencuci pakaian dalam cucu dan suaminya.

2008

Mengadu ke Bung Karno







T. WIJAYA
Mengadu ke Bung Karno

Bung. Bung. Bung. Bung. Bung Karno. Merdeka.
Air mata kami seperti pasir. Satu-satu menerobos kelopak mata. Mulut kami seperti kompor. Satu-satu meledak. Tangan kami seperti senjata. Berebutan menembak tetangga. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor.

Bung. Bung Karno. Aku di sini. Hutan. Hutan. Kera-kera mencakari piring dan cangkir kami. Mereka berak di kebun kami. Ladang kami dijaga gajah. Mereka menginjak padi kami.

Kapal dagang mereka menjaga jalan setiap pagi. Mencegat kami pergi ke sekolah. Membakar kami di setiap malam. Melumuri kami dengan keju-keju babi. Bung. Bung Karno. Bung. Merdeka!

Keluargaku membeku di hadapan televisi. Bunga-bunga gagal mengirim oksigen ke setiap sudut rumah. Suamiku melulu merokok. Dia bergoyang seperti Elvis Presley. Dia duduk seperti John Lenon. Meludahi kemaluannya. Tiap senja, meraton ke jalan-jalan penuh pedagang kaki lima.

Bung. Bung. Bung. Bung. Bung Karno. Merdeka.
Sekarang kami tinggal di rumah toko. Keluargaku menjual pulsa telepon. Kami membiarkan orang-orang menjelaskan diri. Panjang. Panjang. Sampai telinganya meledak.

Bung Karno. Kepercayaan di bawah kompor gas.

2008

Sabtu, 07 Juni 2008

Bel Berbunyi. Kita Bercerai.







T. WIJAYA
Bel Berbunyi. Kita Bercerai.

Di rawa-rawa aku menikahimu. 30 menit setelah kita dapat membaca. Guru-guru itu tidak mampu mengurusi anak-anaknya. Buntinglah, sayang. Bunting bagai aroma asam, di tengah terik matahari, yang membuat ikan-ikan sepat di kolam itu bersembunyi di bawah rerumputan. Tuhan tidak mengajari kita bercinta. Guru-guru itu yang lupa memberikan kondom. Mari bersekutu dengan sepat, tiupmu.

Aku menikahimu. Pondok di belakang gedung sekolah, yang kita tiduri masih menyisahkan buku-buku bantuan presiden. Buku-buku yang membangun Amerika tumbuh di dadamu. Dadamu seluas badan pesawat terbang yang tak henti mengelilingi mimpi kita.

Bel berbunyi. Guru-guru seperti kambing yang makan daun ubi. Mutar-mutar mencari sepatu. Berteriak-teriak di dalam kamar mandi. Bel berbunyi. Kita cemas. Semua siswa berlari ke rawa-rawa. Menemui para leluhurnya.

Bel berbunyi. Kita bercerai.

Sayang, tolong kirim anakku melalui guru matematika.

2008

Kamis, 05 Juni 2008

Monolog Musim Kemarau di Hotel








T. WIJAYA
Musim Kemarau di Hotel

AROMA parfum gucci masih membekas di pikiranku. Rasa ingin memeluk tubuhmu dalam musim kemarau ini terus menggelora. Sebutir keringat yang keluar dari pori-pori keningku akhirnya jatuh, persis di depan pintu lift hotel. Kau berdiri. Aku berdiri.

“Semalam tidak ikut pesta?”

“Pesta yang mana? Semua orang di hotel ini berpesta. Saya sendiri ikut pesta taman denganmu.”

“Maaf, maaf, saya lupa. Permisi.”

Aku masih berdiri. Tubuhmu yang tingginya 172 centimeter dengan ringannya menuruni anak tangga ke lobbi hotel. Aroma tubuhmu ini kali tidak dapat kutebak. Seperti sekuntum mawar segar yang tumbuh di hidungku pada saat matahari pagi memberi salam.

Perpindahan lagu di hotel membuatku buru-buru masuk ke dalam lift. Wajahku masih kanak-kanak. Tidak ada kumis maupun jenggot. Rambutku masih dipotong pendek, tidak seperti rambut Jim Morisson yang kau sukai.

“Lantai berapa dik?”

“12, Om. ”

Tidak ada yang berubah isi kamar hotel yang kupesan. Selimut kasur masih berwarna krim. Batal dan guling bersarung putih masih di posisinya; siap dipeluk dan diberi mimpi. Tirai kamar yang kubuka saat pergi tadi belum tertutup. Pelayan hotel ini tampaknya mengerti bahwa aku sangat menyukai sinar matahari. Bedanya matahari sudah menghilang dari balik kaca.

AC kumatikan. Aku berharap musim kemarau ini memberikan kehangatan yang sangat kubutuhkan. Aku bosan berdiam di dalam ruangan ber-AC. Berdiskusi, memuji, berdebat dengan orang-orang berwajah pucat.

“O, Tuhan. Aku bukan kanak-kanak lagi.”

Cermin kamar mandi memberitahu jumlah ubanku. Memberitahu beberapa gigi grahamku berlubang. Memberitahu bulu-bulu di atas bibir dan di dagu mulai tumbuh. Air hangat menunggu tubuhku yang perutnya mulai membuncit.

Ada banyak perempuan yang memeluk perut ini. Jari-jari kecil sering memainkan pusarnya. Keringat subuh selalu meninggalkan kotoran di dalam pusar.

“Saya tidak meninggalkan kalian. Saya cinta kalian. Tapi saya takut bila kalian terlalu berharap. Saya harus memilih orang yang sama sekali membenci dan tidak menyintai saya. Kenapa? Karena saya bodoh. Bodoh.”

Air hangat mulai dingin. Dia dikalahkan oleh kebencianku atas semua kebodohan yang kupertahankan selama bertahun-tahun. Kebodohan menjadi lelaki yang tidak dicintai. Menjadi lelaki yang asing di mata perempuan yang sebenarnya orang biasa.

“Aku tidak mau ke Jerman. Aku suka musim kemarau.”

“Aku tidak suka ke Paris . Aku suka musim kemarau.”

“Aku benci Belanda. Aku suka musim kemarau.”

PELAN-PELAN aku merebahkan tubuh ke kasur. Aku masih berpikir panjang untuk menyalakan televisi. Di luar langit mulai dipenuhi bintang. Lampu-lampu dari rumah dan kendaraan di kotamu ini seperti kilasan mimpi yang asing; ramai tanpa makna. Seperti suara istriku yang selalu panik setiap kali mendengar ada orang lain yang lebih kaya darinya, lebih bahagia dari keluarganya, atau mengkritik berat tubuhnya.

“Kau bukan siapa-siapa! Aku kasihan padamu.”

Dia seperti ratu Inggris yang dinikahi seorang tukang batu dari Jerman. Menyesal seumur hidup. Aku lihat fotonya. Mungkin kau akan bilang ternyata di dunia ini ada orang yang tidak menyukai cita-citaku.

“Aku harus tahu bagaimana hidup tanpa mitos. Prustasi. Rendah diri. Yang semua itu membuat suatu kemarahan yang luar biasa, sehingga taman pun dia bilang tidak seindah kamar mandinya.”

Sudahlah. Aku berusaha mengingat aroma parfum Gucci itu. Keringat menyelimuti tubuh. Mungkinkah musim kemarau ini seperti yang kuharapkan; membakar ruang ber-AC yang bertahun-tahun bertemu dengan orang-orang berwajah pucat.

Bel berbunyi. Bel berbunyi. Bel berbunyi. Bel berbunyi. Bel berbunyi.

“Mau saya temani sebagai apa pun?”

Siapa yang bodoh? Siapa yang bernasib baik? Kamar hotelku menjadi sangat luas. Setiap sudutnya dipenuhi bunga mawar merah dan putih. Ribuan botol parfum beterbangan. Matahari pagi lahir kembali.

“Maaf, saya masih kanak-kanak.”

“Ya, saya tahu. Saya membawa seribu semut hitam. Mana tubuh kecilmu?”

“Baiklah. Tapi izinkan saya mengukur tinggi tubuhmu. Apakah betul 172 centimeter seperti yang saya perkirakan?”

Ibu, aku tidak sekolah lagi. Tidak pulang lagi. Musim kemarau membakar tubuhku seperti yang aku mimpikan di ruang ber-AC selama ini. (*)

Rabu, 04 Juni 2008

Menjelang Beku, 16 Kasus Tanah








T. WIJAYA
Menjelang Beku, 16 Kasus Tanah

Pagi ini tidak ada rumah di kios-kios rokok. Menuju kantor LBH. Cuma orkes melayu dalam baskom berair sabun membantu. Kotaku di hadapan tv raksasa, babu ini bunting dengan sejarah tak terlacak seperti harga beras. Di sampingnya, 16 kasus tanah di Sumsel mengatakan aku tak mampu membeli Negara, sehingga petani-petani menanam kopi di wajahku. Kemejaku tinggal 5 sen.

Kemarin mereka bekerja di pabrik makanan instan, sekarang kaos kaki bolong dan ikan asin terpanggang di punggung. Anak-anak rawa tidur denganku. Mimpi mereka membeku bagai sekaleng pepsi.

Aku berharap bank-bank menjadi beras. Meliter tidak menjadi agama lalu koran mampu menjadi sungai, rumah susun dan rumah sangat sederhana. Aku tidak bisa lagi menjadi petani! Ujar mereka. Orkes melayu kian meledak dalam baskom berair sabun. Batu! Besi! Marilah berdiskusi. Malaikat membuka mulutku, siapa Tuhanmu? Aku dilarikan ke dalam botol cuka.

1995







T.WIJAYA
Bos, Pahatlah! Kami Berhenti Menggergaji Batu

Bos, bos, kami berhenti menggergaji batu. Kami berhenti menumbuk batu. Kami berhenti memecah batu. Tapi kami tidak membiarkan air mata menjadi batu. Biarkan batumu memaknai kami. Batumu. Batumu seperti sejarah harapan ini.

Bos, bos, kami berlari meninggalkan batu. Kami pergi menuju batu. Kami hilang menjadi batu. Tapi kami tidak membiarkan mimpimu menjadi batu. Pahatlah, pahatlah, pahatlah agar batu kembali menjadi sejarah.

Sesungguhnya Tuhan sangat makmur. Selalu Tuhan memaknai makna.

Bos, bos, pahatlah, pahatlah, pahatlah agar beras dan minyak bumi tidak ditelan para pendatang diam-diam. Pahatlah, pahatlah, pahatlah, selalu sungai mengalirkan kecerdasan. Pahatlah, pahatlah, pahatlah, seperti Bukit Siguntang memilihkan telapak kaki. Pahatlah!

Bos, bos, kami berhenti menggergaji batu. Kami berhenti menumbuk batu. Kami berhenti memecah batu. Bos, bos, kami tidak mau merebus batu, dan membiarkan istri-istri kami mengulum batu. Pahatlah.

2008

Monolog Sriwijaya







T. WIJAYA
Sriwijaya

Konsensus Pertama
Tahun 499 Masehi. Garis katulistiwa membekas di langit. Musim penghujan. Beberapa orang sakti yang merupakan utusan dari suku Rui yang berada di dekat gunung Dempo, suku Kun dari pesisir Timur Sumatra, dan suku Nang dari pesisir Barat Sumatra, berkumpul di bukit Siguntang, yang dikelilingi rawa-rawa namun kaya dengan sumber makanan seperti burung, ikan, kijang, babi, tumbuhan, serta aman dari berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, seperti yang sering terjadi di pesisir Barat Sumatra, pesisir Timur Sumatra, dan sekitar gunung Dempo.

Suku Rui dikenal suku yang sangat pandai berkelahi. Mereka gagah berani dan jujur. Sedangkan suku Kun dikenal sangat pandai mengatur sesuatu. Mereka sangat patuh dengan sistem, dan mereka mampu menjalankan suatu aturan nyaris sempurna. Sementara suku Nang terkenal cerdas, ahli strategi, dan ulet.

"Saya sepakat kita membentuk sebuah kerajaan. Tapi, kerajaan kita nanti harus memiliki hubungan dengan Tiongkok dan India. Sebab mereka merupakan kekuatan yang sulit kita taklukan,” kata Damputah Hyang, perwakilan dari suku Rui.

Damputah Hyang merupakan lelaki yang tingginya 2,5 meter. Berambut putih yang ikal. Bermata sipit dan berhidung mancung. Kulitnya kuning dan tipis. Dia memiliki kesaktian, seperti mampu terbang sejauh 200 meter, dan pekikkannya mampu membunuh seseorang.

"Saya juga sepakat. Tapi, kita harus bersumpah, agar di antara kita jangan saling mengkhianati,” kata Tuk Zal dari suku Nang. Tuk Zal orangnya cerdas. Mampu menghitung jumlah burung yang lewat dengan sekali lihat. Bahkan, dia mampu menghitung jumlah bintang di langit.

“Saya setuju. Tapi, selanjutnya kita harus menyusun suatu aturan,” kata Bhumi dari suku Kun. Sementara Bhumi orang yang sangat tertib. Dia mampu tidur selama sepekan dalam posisi tubuh yang sama. Bahkan, dia mampu mengatur tugas buat setiap warga suku Kun.
Tak lama kemudian mereka bersumpah di Bukit Siguntang.

Mereka akan saling menghormati dan menjaga kerajaan dan raja yang terpilih selama kerajaan dan raja melindungi dan memberi makan terhadap rakyat. Tapi, bila kerajaan dan raja menindas dan menghina rakyat, mereka akan melawan.

Setelah sumpah itu, terpilihlah Damputah Hyang sebagai raja yang pertama Sriwijaya. Mereka memilih nama Sriwijaya lantaran nama itu berarti “Raja yang Menang”. Maksudnya, setiap raja yang memimpin Sriwijaya selalu meraih kemenangan atau kejayaan. Dengan begitu kerajaan pun menjadi besar.

Sebenarnya ada beberapa nama, selain Sriwijaya. Misalnya Sukmawijaya, Gentar, Bumijaya. Tapi nama-nama itu kalah suara saat dilakukan pemungutan suara.

Sebagai pusat pemerintahan dipilih kawasan yang tak jauh dari bukit Siguntang. Alasannya, selain sebagai daerah yang paling aman dari bencana alam, kaya dengan sumber makanan, juga merupakan titik tengah atau pertemuan yang ideal dari pemukiman suku Kun, Rui, dan Nang. Di sisi lain, akses ke perairan Timur yang telah dikuasai kerajaan Fukian, Kamboja, Tiongkok, juga lebih cepat. Pusat kerajaan ini mereka sebut Palembang.

Seusai pembentukan kerajaan Sriwijaya, Raja Damputah Hyang mengutus kurir ke Tiongkok untuk membangun hubungan ekonomi dan politik. Kerajaan Tiongkok sepakat. Tapi, mereka meminta Sriwijaya harus menganut ideologi Budha. Sebab, mereka melihat ada ancaman dari Barat yang menyebarkan ideologi Nasrani. Bila sepakat dengan Budha, mereka akan mendukung semua langkah yang diambil Sriwijaya. Sementara utusan yang berangkat ke India, juga mendapat persyaratan yang sama. Singkat cerita, sebagai bukti Sriwijaya sepakat dengan Budha, mereka mendirikan sebuah perguruan tinggi Budha, yakni Syakjakirti.

Guna mengembangkan wilayah, dan mendapatkan pemasukan bagi kerajaan, dibentuklah armada laut. Tugasnya yakni merompak setiap kapal milik kerajaan lain. Langkah perompakan ini cukup efektif, sebab selain mendatangkan kekayaan bagi kerajaan, juga kerajaan lain akan melemah dengan hilang kekuatan ekonominya. Selanjutnya kerajaan itu dengan gampang ditaklukan.
Hanya hitungan tahun, kerajaan Sriwijaya menjadi besar dan kuat. Selain dilindungi Tiongkok dan India, mereka sangat beringas di lautan.

Tidak itu saja, sejumlah kerajaan di Nusantara juga takluk dengan Sriwijaya, termasuk kerajaan di Jawa yang berideologi Hindu.

Sejalan dengan berkembangnya Sriwijaya, Palembang menjadi daerah metropolis. Berbagai suku bangsa di Nusantara dan dunia berkumpul di Palembang.

Konflik mulai muncul, ketika suksesi pemilihan raja Sriwijaya ke-666. Seorang calon dari tanah Jawa yakni Balaputra Dewa mengalahkan Tuk Kum dari suku Nang. Persoalannya, terpilihnya Balaputra Dewa seperti mengkhianati tradisi raja-raja Sriwijaya, yang sebelumnya berasal suku Nang, Rui atau Kun. Tuk Kum menuduh bahwa dirinya tidak terpilih lantaran dikhianati oleh utusan dari suku Rui dan Kun.

Sejak itu, suku Nang menarik diri dari kerajaan Sriwijaya. Mereka mengembangkan sendiri kekuatan di wilayah tengah hingga ke Timur Sumatra, dan sepanjang pesisir Barat Sumatra.

Balaputra Dewa menerimanya. Dia membiarkan suku Nang mengembangkan sendiri kekuatannya. Sebagai tanda perjanjian, Balaputra menikahi seorang putri dari suku Nang.
Ternyata Balaputra Dewa dan keturunannya mengkhianati apa yang telah diikrarkan suku Rui, Nang, dan Kun di bukit Siguntang. Raja-raja Sriwijaya yang dipilih selanjutnya bukan berdasarkan konsensus atau rapat yang dilakukan perwakilan dari suku Rui dan Kun—minus suku Nang. Raja yang terpilih semuanya merupakan keturunan dari Balaputra Dewa.

Suku Rui dan Kun secara diam-diam menarik dukungan terhadap Sriwijaya. Akibatnya, ketika kekuatan Islam menyusup pada masyarakat Palembang, kerajaan Sriwijaya sulit membendungnya. Orang-orang di Palembang lamban laun tidak patuh lagi dengan aturan raja.Puncaknya Siwijaya tak kuasa menahan gempuran dari India dan Jawa.

Merasa telah dikhianati oleh kerajaan dan raja, sekelompok pendengkar dari suku Rui dan Kun meninggalkan Palembang di bawah pimpinan Parameswarah.

“Kita akan kembali ke tanah ini dengan kekuatan yang besar. Mereka tidak akan selamat selama berada di tanah ini, sebab mereka telah mengkhianati sumpah!” kata Parameswarah.

Konsensus Kedua
Tahun 1500. Tepatnya tidak sampai seratus tahun, keturunan Parameswarah kembali ke Palembang. Mereka menguasai Palembang setelah mendapat dukungan dari Tiongkok, ditandai kedatangan panglima Cheng Ho, serta sebagian bangsawan Jawa yang muslim. Mereka mencoba membangun kembali kerajaan Sriwijaya di Palembang. Tapi ideologinya bukan lagi Budha, melainkan Islam.

Sayang kekuatan itu kembali hancur, sebelum nama Sriwijaya dideklarasikan kembali. Awalnya lantaran perpecahan antar petinggi kerajaan, lalu kaum Barat memanfaatkan konflik itu sehingga hancurlah kerajaan tersebut.

Konsensus Ketiga
Tahun 2004. Keturunan suku Nang, Kun, dan Rui, mencoba kembali membangun Sriwijaya. Sayang, bencana alam seperti gempa bumi, memecah kosentrasi mereka. Awalnya, mereka membuka kembali fakta-fakta yang selama seratus tahun lebih dikubur di dalam tanah, sebagai harta karun yang diburu pendengkar-pendengkar dari Jawa.

Selain itu Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menolak usulan mereka. Menurut SBY, begitu biasa Susilo Bambang Yudhoyono disebut, pembentukan kembali kerajaan Sriwijaya jelas bertentangan dengan semangat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dapat dikatakan sebagai “negara dalam negara”.

“Kalau nama Indonesia diganti Sriwijaya, apa juga ditolak?” tanya Bachtiar Syahri Wijaya, seorang anggota Konsorsium Persiapan Kerajaan Sriwijaya, saat berjumpa dengan SBY di Istana Presiden Indonesia di Jakarta.

“Tentu saja. Indonesia ini merupakan kesepakatan seluruh rakyat di Nusantara. Kalau menggunakan Sriwijaya sama saja mengkhianati semangat pembentukan negara bangsa ini. Pokoknya saya tidak setuju dengan pembentukan kembali kerajaan Sriwijaya, mengubah nama Indonesia menjadi Sriwijaya. Kalau hanya untuk membangkitkan kembali sebagai aset wisata, saya setuju. Mengapa sih kalian punya gagasan yang aneh ini?”

“Maaf, Pak. Bukan kami antiIndonesia, tapi coba kita rasakan sebagai rakyat Indonesia. Umurnya baru 62 tahun, tapi hidup ini seperti susah terus. Mungkin, kalau kita kembali membangun kerajaan Sriwijaya atau mengubah nama Indonesia menjadi Sriwijaya, kita akan mengalami kejayaan selama berabad-abad seperti kerajaan Sriwijaya di masa lalu.”

SBY berpikir sejenak. Dahinya berkerut. “Tidak bisa. Tetap tidak bisa. Ini bertentangan dengan sumpah saya sebagai presiden. Dan, ini bertentangan dengan UUD 1945. Dan, bila kalian terus mengusahakan pembentukan kerajaan Sriwijaya, saya akan menangkap dan menahan kalian,” ujar SBY.

Meskipun ditentang banyak pihak soal rencana pembentukan kembali kerajaan Sriwijaya, mereka terus saja mendiskusikan bagaimana caranya melahirkan kembali kerajaan Sriwijaya. Mereka berdiskusi di perpustakaan, toko buku, seminar, dan di rumah ibadah. Tetapi, sayangnya, sejumlah warga dari suku Rui, Nang, dan Kun, tidak sabaran. Mereka buru-buru membentuk kota baru, kabupaten baru, atau provinsi baru.

“Ini satu-satunya peluang membebaskan diri dari penderitaan ini. Sebab gerakan ini dijamin hukum dan perundangan-undangan,” kata Waisun Bara, yang berencana membentuk Provinsi Pasemah yang mayoritas penduduknya dari suku Rui dan Nang.

Waisun tetap dengan pendiriannya meskipun dia membaca sebuah naskah yang mengutip pernyataan Damputah Hyang sebelum meninggal dunia dalam usia 251 tahun. “Kalau mereka terus memikirkan cara memisahkan diri, saya percaya gunung Dempo akan meletus, laharnya menimbun seribu dusun, tsunami akan menghantam perkampungan di tepi pantai, gempa bumi meluluhlantakan makam-makam. Sriwijaya tidak mungkin lahir kembali.”

Meskipun banyak anggota Konsorsium Persiapan Kerajaan Sriwijaya yang memilih membentuk kota, kabupaten, dan provinsi baru, perjuangan pembentukan kerajaan Sriwijaya terus dijalankan. Sebagai langkah awal, para aktifis Konsorsium Persiapan Kerajaan Sriwijaya membangun kerajaan Sriwijaya di sebuah rumah tak jauh dari Istana Gubernur Sumatra Selatan di Jalan Demang Lebar Daun Palembang.

Bila Anda iseng lewat di Jalan Demang Lebar Daun Palembang, coba tutup telinga Anda, maka akan terdengar sebuah sajak milik para raja Sriwijaya yang dibacakan mereka. Sajaknya seperti ini: Dum, dum, dam, dam, dem, dem, dom, dom, dim, dim, dug, dog, dag, deg, dig, dus, dos, das, des, dis, duk, dak, dok, dek, dik, dup, dap, dop, dep, dip, dul, dal, del, dol, dil, duz, daz, doz, dez, diz. [Sebuah sajak yang dibacakan setiap Raja Sriwijaya sebelum menggelar sumpah di Bukit Siguntang.

Lalu sajak tersebut menjadi pemenang dalam sebuah lomba penulisan puisi yang digelar sebuah sanggar seni yang merupakan underbow sebuah partai politik].

Saat ini, Raja Sriwijaya itu adalah Anda. Tidak percaya? Bacalah sajak tersebut sebanyak 127 kali setiap malam dalam 10 tahun.*** 2007

Saya Gagal Menjaga Kakus







T. WIJAYA
Saya Gagal Menjaga Kakus

Terlalu akrab. Saya gagal menjaga kakus. Jin-jin yang berdiam. Mitos-mitos yang berkembang. Menghisap dan meneguk rahasia-rahasia yang terbongkar. Saya mengecil, lembek, dan bau.

Terlalu banyak. Saya gagal menjaga kakus negeri ini. Jin-jin yang beranak. Mitos-mitos yang mengejar. Menggilas semua yang lain. Saya berdarah, tercabik, dan berulat.

Masih muslimkah saya?

Yes, pergi saja ke padang pasir. Kencing jongkok. Di balik batu. Menghadap kekosongan. Jangan setetes menggemparkan ketenangan tanah.

Lalu? Zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir, zikir...

Yes, saya sudah dua jam di dalam kakus. Jin-jin berbisik. Katanya, kaum Yahudi melahirkan banyak nabi. Melahirkan banyak klub sepakbola. Membangun banyak hotel. Menciptakan banyak artis. Mendorong banyak penulis. Membantu banyak organisasi nonpemerintah.

Dor! Sebuah peluru dari balik dalam sabun cuci tangan menghantam kepala saya. Dia mengobok-obok otak kiri saya. Triliun jalur saraf putus dan pecah. Di kelopak mata saya, perempuan berusia 43 tahun mandi. Tidak ada rahasia. Suaminya dihancurkan dengan busa sabun. Termasuk pangkat dan daftar gaji yang menjadi kecil-kecil, numpang lewat di depan saya. Tiba-tiba.

Masih muslimkah saya?

Terlalu sering. Saya gagal meniru kucing. Kakus, jangan tinggalkan saya.

2008

Monolog Cagak








T. WIJAYA
Cagak

”AKU tidak suka dengan orang komering. Nada bicaranya kasar. Pemarah. Dan, kalau diskusi mau menang sendiri. Egois,” kataku.

Udara panas.

”Berarti kau senang dengan orang Lahat atau Pagaralam?”

”Aku juga tidak suka. Mereka sama kasar dan sombongnya.”

”Wong Palembang?”

Aku tertawa. Secangkir anggur yang kuteguk membuat tubuh seperti melayang. Ringan.

”Aku tidak suka semua suku di Sumatra Selatan!”

”Mengapa masih menetap di Palembang?”

“Aku suka semua jenis ikan yang hidup di sungai Musi.”

Perempuan itu melepaskan pelukannya. Punggungnya ringan. Dia meloncat kecil dari sofa yang kami geluti sejak sore tadi. Dia berjalan pelan menuju kaca yang dibingkai ukiran kayu bermotifkan bunga teratai, berwarna coklat.

”Mengapa kau membenci semua orang? Kau juga tidak suka dengan aku?”

”Ya, aku tidak suka dengan setiap orang yang ada di Sumatra Selatan ini. Aku tidak suka. Yang kusukai hanya ikan. Ikan-ikan yang hidup di sungai Musi. Ikan yang bebas mengekspresikan dirinya. Ikan yang memakan apa saja. Ikan yang tidak terikat dengan ideologi. Ikan yang hanya menginginkan makanan, bersetubuh, dan memiliki banyak anak. Beratus-ratus anak. Beribu-beribu anak. Bila lapar, anak-anak itu rela dimakan. Yang kuat dan bernasib baik tumbuh seperti aku. Berkarakter seperti aku.”

Perempuan itu mengenakan jilbabnya, setelah mengganti pakaian tidurnya dengan celana jeans ketat, dan t-shirt berlengan panjang berwarna hitam.

”Kau benar-benar seekor juaro!”

Aku kembali tertawa. Udara kian panas. Pondok kayu yang kami sewa di tengah persawahan di dusun Pemulutan, Ogan Ilir, seperti dibakar matahari. Siang tanpa kejutan. Perempuan itu keluar dari pondok. Berlari menuju mobil Panther yang terparkir di dekat rumah panggung petani pemilik pondok kayu.

Aku terus tertawa. Tubuhku bergetar. Tubuku tumbuh sisik. Tubuhku ditumbuhi sisik. Lalu, tanganku menjadi sirip. Kakiku menyatu. Panas. Aku melompat ke sawah yang digenangi air.

CAGAK rumah itu selesai kusuguh. Cagak ketiga. Kayu cagak itu dari kayu unglen. Kuletakan begitu saja cagak itu di antara tumpukan seng yang nantinya menjadi atap rumahku.

Keringat bercucuran dari kening, pipi, ketiak, tukuk, selangkangan, dan telapak tanganku. Basah. Tapi, yang membuatku sadar tengah membuat rumah yakni aroma ketiakku. Aroma ketiakku seperti bau bulu ayam betina yang sudah sepekan mengerami telurnya.

”Bau ketiakku saat itu menjelaskan kepada siapa saja bahwa aku orang miskin. Orang miskin yang tidak memiliki rumah. Untungnya, rumahku tetap berdiri meskipun aku tidak mampu membuat cagak keempat.”

Perempuan itu kembali masuk ke dalam pondok. Dia mendengarkan ceritaku. Dia datang setelah menjadi hantu. Sejam yang lalu, mobil Panther yang dibawanya menabrak kereta api yang melaju kencang di Kertapati. Dia mau pulang ke rumah orangtuanya, yang terletak di balik pagar tembok belakang stasion kereta api Kertapati.

”Kita berdua sudah menjadi hantu. Apa kau masih membenci setiap orang di Sumatra Selatan?”

”Tentu saja. Aku tadi melompat ke sawah. Aku bertemu dengan ikan betok. Katanya, petani yang menyewakan pondok ini juga termasuk manusia pemarah, sombong, dan mau menang sendiri. Padahal, katanya, dia orang Sunda. Aneh.”

”Please! Jangan kau benci orang di luar Sumatra Selatan. Nanti terlalu banyak orang yang kau benci. Kita ini sudah menjadi hantu. Kita bebas melakukan apa saja terhadap manusia, tapi jangan kau benci banyak orang. Aku khawatir kita tidak akan lolos dari pintu akhirat.”

“Aku benci dengan mereka lantaran kita ini hantu! Buyan. Buyan nian kau ini. Lihatlah, keluarga petani itu sejak sore tadi sibuk menyembah kambing panggang yang dijadikannya sesajen buat kita. Mereka pikir kita ini mau makan daging kambing? Kasihan mereka. Kita kan hanya kasihan. Tapi, kalau kita terus membiarkannya, warga di desa ini akan percaya kalau kita ini senang dengan daging kambing. Des, apa orang Sumatra Selatan seperti ini yang pantas tidak dibenci?”

CAGAK keempat tidak berhasil kubuat. Kayu unglen sulit kudapatkan. Tidak ada lagi yang mau menjual apalagi memberinya buat keluargaku. Semuanya dieksport ke Jepang. Kecuali film kartun, makanan instan, dan bangkai mobil yang memenuhi sungai Musi.

Sungai Musi yang dulunya dapat dilalui kapal besar, kini menjadi dangkal, dan di tepiannya selain dipenuhi sampah besi dari kerangka mobil, juga sampah sepeda motor, gerbong kereta api, tanki pabrik, kapal, sehingga perahu milikku harus bersusah payah menyusuri sungai Musi.

Bekas lokasi jembatan Ampera merupakan wilayah yang paling berat dilalui. Selain hampir setengah lebar sungai Musi ditutupi badan Ampera yang patah, juga tongkang-tongkang disusun berjajar silang oleh para pemuda kampung 7 Ulu dan 10 Ulu. Bila tidak ada uang atau perempuan cantik yang dapat diberikan kepada mereka, jangan harap dapat melalui wilayah itu. Lelaki miskin yang berani lewat di wilayah itu, dipastikan dua atau tiga hari kemudian menjadi bangkai. Kenapa? Bila tertangkap, dia akan dijadikan lawan berkelahi sampai dapat dikalahkan, atau harus melayani puluhan perempuan gemuk dan berbau busuk hingga merangkak pun hanya sebuah keinginan.

Mengapa aku dapat lolos dari wilayah itu? Sebab aku adalah kamu. *

2008

Selasa, 03 Juni 2008

Bukan. Jempol Kaki.








T. WIJAYA
Bukan. Jempol Kaki.


Sehabis menyetubuhi istri, dan membiarkan dia menikmati Tuhan, aku menemukan jempol kakiku menginjak rekening listrik. Dia membayar Rp150 ribu. Lalu, jempol kakiku dan saudaranya menonton televisi. Dia digulung kriminalitas. Dicabik-cabik iklan. Dia hilang sebagai catatan 7.000 tahun lalu, di sebuah pondok di tengah Tiongkok.

Sopril!

Bukan. Jempol kaki.

Ratusan ribu tentara yang setia dengan kaisar memburu jempol kakiku. Mengalahkan padang pasir. Mengalahkan musim dingin. Mengalahkan bambu-bambu. Mengalahkan padang batu. Mengalahkan pasukan keledai. Mengalahkan dirinya.

Conie!

Bukan. Jempol kaki.

Di Berlin, 2002 lalu, jempol kakiku di bungkus dengan kaos kaki oleh perempuan Yahudi. Tahun berapa ini? Tanyaku. Dia selamat dari gelombang benua. Letusan gunung. Dan, kebencian Laut Tengah. Kini, dia menikahi seorang pemain sepakbola. Tiap pekan mereka makan di restoran Prancis. Mengoleksi patung-patung dari Bali, Lombok, arca dari Jawa dan Sumatra. Membiarkan para Indian menjaga 25 kuda di sebuah vila di tengah hutan Amazon. Sesekali mengirim e-mail ke sebuah gereja di Lebanon; anak kami bukan Yahudi. Berulang. Berulang. Ulang.

Harry Roesli!

Bukan. Jempol kaki.

Aku kembali ke kamar. Indonesia memang bodoh membiasakan kaum lanangnya memakan ikan. Otaknya terlalu cerdas untuk mengerti Tuhan menyediakan 900 bidadari di surga bagiku. Tapi, aku tidak sadar jempol kakiku menginjak lendir itu. Hingga Tuhan pun tahu sidik jempol kakiku tidak lagi mengecap punggung istriku.

Karl Max!

Bukan. Jempol kaki.

2008

Sendok 40 Tetangga







T.WIJAYA
Sendok 40 Tetangga

Menghitung sendok 40 tetangga. Tanpa minyak, tanpa kerak. Licin. Wajah langit dapat berkaca. Sejarah mulut-mulut jauh dari album kunjunganku.

Dari balik jendela tanpa kaca dapur milik tetangga, ikan-ikan seluang yang lahir dari rahim tetangga melawan arus. Menolak kekinian. Mencari mata air yang paling dulu memaknai tetangga. Oi, aku tertinggal dalam kulkas kapal pesiar menuju laut. Aku tidak baik-baik.

Aku tidak baik-baik. Flu menyerang setiap subuh dan petang. Suara-suara tetangga menyapa aspal jalan, seperti jutaan ikan seluang menggigit ujung kemaluanku. Minyak wangiku yang menyapa mimpi 4O tetangga. Kubeli dari tangan perempuan yang sering masuk televisi!

Sementara mimpiku; luar biasa aku berlari di atas sendok 40 tetangga. Aku tidak baik-baik. Napasku melilit leher. Lambungku terhempas.

Menghitung sendok 40 tetangga. Buka pintu. Buka pintu. Tanganku penuh darah ikan-ikan seluang dari rahim tetangga. Bantu aku mencuci tanganku.

2008

Senin, 02 Juni 2008









T. WIJAYA
Bapak, Aku Ingin Menjilat Dengkulmu

Bapak, aku masih orang-orangan. 38 tahun menunggu kedatangan Indonesia. Melulu pesan asing yang masuk ke telepon genggamku. Bapak, aku ingin menjilat dengkulmu. Berikan ruang. Jangan rayu anggota dewan dan menterimu memotong lidahku.

Sungguh, aku melihat dengkulmu seperti es krim yang dipenuhi susu dan madu. Aku tidak berharap minyak tanah dari dengkulmu. Aku juga tidak mau dibuang sebagai anjing-anjing penjaga candi.

Bapak, aku ingin menjilat dengkulmu, seperti keinginan para perempuan yang pernah melayaniku. Menghisap manisnya perjalananmu menghitung luasnya sumur dan sungai minyak bumi di kampungku. Kampung tanpa dengkul. Kampung orang-orangan.

Bapak, kami masih orang-orangan kian berbeda. 38 tahun di meja tamu Indonesia. Ayo! Ayo! Buka seluasnya dengkulmu. Jangan sedih, dan mempertanyakan perginya nyawa kami. Hargailah lidah kami. Rasakan liur dan pori-pori lidah kami. Resapi, seperti kau menyampaikan salam ketika menyambut harapan adanya Indonesia.

Sungguh, aku melihat dengkulmu melebihi indahnya dongeng kebebasan dari cafe-cafe di Paris. Jangan tutupi dengan kain-kain buatan India. Ah, aku tahu kau cemas dengan beberapa helai bulu dengkulmu. Bulu-bulu yang nyaris sama dengan bulu hidungku.

Bapak, aku tetap orang-orangan. Aku berjanji akan terus memburu dengkulmu; menjilatinya. Tunggulah, sampai kerjaku selesai mengumpulkan serpihan lidahku yang tercecer di kamar mandi kampungku. Kampung tanpa dengkul. Kampung orang-orangan.

[Sajak ini aku bacakan di hadapan anak dan istriku setelah pemerintah berencana menaikan harga BBM. Kedua anakku menyembunyikan dengkulnya sambil berteriak, ”Geli, Pak!” Sementara istriku cengar-cengir, dan berkata, ”Awas lidahmu kau gadaikan buat beli minyak.”]

2008

Sriwijaya 13







T. WIJAYA
Sriwijaya 13

[Tiba-tiba kami bertemu, makan pempek, naik mobil, shooting, memotret, mencoba tidak takut dengan gelombang air sungai Musi]

Awalnya menatap batas laut, dan menjaga puncak Dempo. Hujan turun membasahi batu-batu serupa harapan. Lalu, berabad-abad menanam nusantara. Taman sepuluh ribu lebih wajah, kulit-kulit pelangi. Belayar dalam berbagai angin, menitipkan rasa setia pada malam dan siang. Seperti It Tsing yang berdiri di bawah matahari tanpa bayangan.

Musim berganti. Perahu dimakan sungai-sungai yang menyempit dan menghilang. Di tangan kita yang cemas, air rawa yang sederhana menyisahkan gesekan daun yang tak terekam. Kita tersesat di antara Tiongkok dan India. Tiba-tiba kita berbeda!

Mengutuklah janji kita. Kita sakit seperti masyarakat yang disusun di tangga. Saling menghisap ubun-ubun. Ketegaan memucat.

Akhirnya kita kembali menemui Bukit Siguntang. Mencari abad-abad nusantara. Kita bersumpah: Memetik Sriwijaya. Hati sebesar tanah, seluas angin, dan selembut air.

Tidak ada perempuan atau laki-laki yang dilarang menjadi sederhana dan sama. Menikahlah agar tidak berbeda.

2008








T.WIJAYA
Palembang adalah Rumah Tanpa Parit

Palembang adalah rumah tanpa parit. Semua terbenam ke tanah, dibakar, atau merayap ke semua ruang saat hujan memukul atap. Sampah-sampah lebos, hingga kita lelah mengeluh dan marah. Kita menyelamatkan diri dengan menimbun, dan pelit memberikan setengah meter tanah buat parit. Kita simpan perahu dan memarkirkan mobil sebagai identitas, meskipun jalanan tanpa parit.

Pergilah ke warung kopi atau cafe dangdut, kita menjadi parit bagi keluarga dan masa lalu. Air busuk keluar dari semua lubang, menetes sepanjang perjalanan menuju rumah ibadah. Pada akhirnya, setiap sudut, tidak ada WC yang dapat dijadikan tempat tidur bagi pengenala ilmu pengetahuan.

Siapa saja menjadi betok!

2008

Jiwa yang Tersesat di Kesenian








T.WIJAYA
Jiwa yang Tersesat di Kesenian

Jiwa yang tersesat di kesenian, sepatu yang tenggelam di dasar parit. Siapa pun menyapanya teringat dengan ketegangan dan permohonannya, lalu penipuan. Tidak ada tanda bagi banyak manusia. Sebab tersesat dia takut dengan kesepian, dan gagap menikmati susu sapi. Mereka tidak mungkin menjadi batu, kecuali lumpur yang diludahkan bumi berulang-ulang setiap musim hujan.

Jiwa itu kini berdiri di hadapan waktu. Tangannya terkepal tapi bukan buat kesepian, kecuali biografi yang mengeluh. Lalu, menangis sampai airnya membeku di tumpukan proposal. Mereka ingin dihidupi. Dihidupi. Seperti sapi-sapi tanpa tetek. Katanya, ada kemungkinan satu puisi buat bumi bergetar sambil mencuri! Selanjutnya cukup dituturkan sebagai puyang peradaban. Bila tak cukup, kisahkan ke dusun-dusun, Amerika Serikat telah membakar banyak puisinya. Jiwa itu kini memutari kota. Bahu naik. Kepala ke atas, mempertanyakan Tuhan yang memuliakan seseorang.

Jiwa yang tersesat di kesenian, tidak pernah tumbuh sehelai pun rambut di dada dan kepalanya...

2008

Florence Ciki Pergilah








T. WIJAYA

Florence Ciki Pergilah

Orang-orang berlari menuju warna. Tidak tersisa warna buat Florence Ciki. Florence Ciki dalam rabun. Paku-paku menancap di kemaluannya. Dia berbalik, pantatnya menipis, buah dadanya memukuli dada. Cuciannya kanyut di sungai Musi. Tai dari burit 10 anaknya mewarnai orientasi moralnya.

Moralnya melompat ke pasar Jakabaring. Dia mencakari ikan sungai, meludahi sayuran, mengencingi berkarung-karung beras, menciumi ketiak para kuli, lalu tidur sambil berharap moralnya bukan tiang bendera.

Di bawah tiang bendera, sekian ribu semut dari kolong-kolong rumah panggung yang lembab berbaris. Mereka menyanyikan Indonesia Raya selama 60 tahun. Punggung mereka penuh panu. Kurap melingkari pinggang. 45 tentara memaksa mereka menggunakan obat anti jamur! Pedih. Pedih. Pedih. Pedih.

Bagaimana catatan sejarah mengenai sumpah?

Orang-orang bertinju kembali ke rumah. Tidak ada tangga dan pintu yang suci. Semuanya telah diperkosa warna. Dinding teras pun sepakat dengan kamar mandi; bertukar keramik, bertukar bau pesing.

Jangan menunggu.

Florence Ciki pergilah. Florence Ciki pergilah. Florence Ciki pergilah. Pintumu di bagian utama dari ruangan ini. Laki-laki melulu menyukai kamar mandi, asbak, sepakbola, dan toilet umum di hotel ini.

Di luar hotel, moralnya melompat ke Jalan Diponegoro...

2008

Angka Pancasila






T.WIJAYA

Angka Pancasila


Satu Pancasila. Mungkin 239.000.000 Pancasila.

Darah. Gebuk.

Mereka menombaki langit milik Tuhan. Cemas.Cemas.Cemas. Cemas.Cemas.Cemas. Ibu. Cemas.Cemas.Cemas.Cemas.Cemas.Cemas. Ibu. Cemas.Cemas.Cemas. Sapi, banteng, kambing, kerbau, gajah, menjadi liar!

Satu Pancasila. Mungkin 0,777778231 Pancasila.

Gebuk. Gebuk. Darah.

Mereka meludahi pelangi Tuhan di tanah.

Mereka menombaki langit milik Tuhan. Cemas.Cemas.Cemas. Cemas.Cemas.Cemas. Ibu. Cemas.Cemas.Cemas.Cemas.Cemas.Cemas. Ibu. Cemas.Cemas.Cemas. Sapi, banteng, kambing, kerbau, gajah, menjadi liar!

Siapa lagi datang ke Indonesia?

Pancasila, teriak mereka dari tangga pesawat terbang.

2008

Saya Bandit









T.WIJAYA
Saya Bandit


Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Ini celana dalam saya! Mau apa Peter? Saya bandit. Saya bandit.


Sebentar, saya tidak mencopet, merampok, membunuh, menjadi tukang pukul di lokasi perjudian atau pelacuran. Saya bandit. Saya bukan Thoyib. Saya bukan Ibrahim Syafei. Saya bukan Atai. Saya bandit. Ini celana dalam presiden saya! Mau apa Peter?


Peter. Peter. Peter Gwin, dari National Geographic Magazine, menggaruk kepalanya yang plontos. Café Legenda di sungai Musi bergoyang. Saya tetap bandit. Bila kata-katamu telah cukup, saya berambut pirang seperti George W. Bush.


Saya tidak berdongeng. Saya membelanjakan ribuan dolar buat menyusun kata. Menyusun kata seperti para priyayi berdongeng soal leluhur mereka sehabis mengambil gaji dari pejabat Belanda. Saya bandit. Tolong buatkan saya stempel yang menjadi tanda, saya pernah berbohong kepada makam orang uluan dan anak jalanan.


Peter. Peter. Peter Gwin, dari National Geographic Magazine, menguyah pempek, pelan-pelan. Saya bandit. Saya tidak dapat menghentikan orang baik-baik membuat proposal, dan membiarkan satelit memotret kambing-kambing menelan obat penenang di café ini. Saya bandit, saya berambut pirang seperti George W. Bush.


Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Ini kapak merah saya! Mau apa Peter? Saya bandit. Saya bandit.

2006

Bos, Kami Menggergaji Batumu








T.WIJAYA
Bos, Kami Menggergaji Batumu

Menikah setelah mandi, bos, kami menggergaji batumu, yang menumpuk-numpuk di sejarah padi. Dan Qomar menggergaji dia. Serbuk-serbuk dada. 50.050.000 anakmu lepas di jalan. Kami menikah bos. Di mana kami menjahit kaos kaki ibu dan mengirim sendok dan garpu ke semua negaramu. Gudang-gudang terbakar, bos, kami menikah. Kehabisan gula dan ester-c, kering. Peta retak. Sungai kecut. Tapi bos, kami terus menggergaji batumu. Dan tidak ada yang tahu kapal-kapal menabrak gunung, juga ketika hiumu-hiumu beterbangan di meja makan. Kami, bos terus menggergaji batumu. Serbuk-serbuk dada. Menikah dihadiri Acun. Dasinya menjadi panjang. Panjang, bos. Seperti doa abahmu, bos. Kami terus menggergaji batumu. Serbuk-serbuk dada.

1995









T.WIJAYA
Bos, Saya Berhenti Menggergaji Batu

Sebenarnya saya berhenti menggergaji batu. Saya menelan batu, Bos. Sebab bukan lagi 63 anak sungai dan 2.300 jenis ikan. Kebutekan air membuat semua penuh lumut, lumpur, serta anak-anak tangga di mulut. Istri saya yang terus menggergaji batu.


Ceritanya bermula kita bergulingan di kamar mandi, Bos. Penis saya meluncur di lantai berlumut dan pesing, bagai kecemasan menusuk dada sehabis menonton ibu dimakan anaknya di televisi. Lalu, katamu, Bos, jangan ulangi pertemuan ini. Saya bagai jas hitam dibungkus beribu-ribu kondom, dan papan nama kantor saya dijepit pahamu.


Bos, saya berhenti menggergaji batu. Berhenti.


Bos, saya mandi atau tidak mandi, biarkan bersisik. Saya tidak mau belajar agama dari suaramu. Masjid kian membesar dan megah, seperti puluhan jembatan melintasi sungai Musi, di antara makam orang miskin.


Dulu, kita timbun sungai, dan gali tanah. Katamu, nenek moyang kita ajarkan kekebalan dengan kebingungan ini. Kebingungan tersebut. Kebingungan tertentu.


Sungguh, Bos, saya berhenti menggergaji batu. Istri saya yang terus menggergaji batu, meskipun saya tahu dia bukan betok atau gabus, yang tidak pernah dikalahkan kemarau dan banjir.


Saya bosan kehilangan kebun, dan perahu. Saya bukan rombongan ke New England . Saya bukan penari telanjang di café-café sepanjang Bangkok . Tolong, Bos, biarkan kulit saya bersisik.


Saya tidak takut dengan kodok. Biarkan dia bersejarah dengan lidah dan perutnya. Catat, Bos, saya bakar kapal-kapal dari Macau jika kembali membawa batumu.


Saya tidak takut digoreng, kemudian dicecel bersama kecap, cuka, dan sambal, ke dalam mulutmu.


Saya Tionghoa. Saya berhenti menggergaji batu. Biarkan istri saya yang menggergaji batu. Saya ingin masuk surga bersama makam orang miskin yang kaya.

2006

Video MUSI MENGALIR

Slide Keluarga